Get In Touch
541 Melville Ave, Palo Alto, CA 94301,
ask@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.705.5448
Work Inquiries
work@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.306.6725
Back

Teras yang Mengizinkan Diam

Angin musim gugur menyusup perlahan di antara celah-celah papan kayu, membawa serta aroma tanah basah dan kenangan yang menggigil diam-diam. Di luar, pohon- pohon momiji (紅葉) meluruhkan daun-daunnya satu per satu, helai-helai kuning kemerahan menari di udara, berputar pelan seperti bisikan hati yang sempat tertahan.

Daun-daun itu melayang dengan ringannya, seolah enggan menyentuh bumi terlalu cepat, seperti kata-kata yang dipendam begitu lama, tidak ingin cepat meledak, tidak pula mendesak, hanya jatuh perlahan penuh akan makna. Setiap guguran adalah jeda yang sunyi, tetapi indah, seperti akhir dari sesuatu yang tidak pernah benar-benar dimulai.

Suasana terasa hening, namun bukan sepi. Lebih seperti dunia tengah menarik napas panjang, dalam dan tenang, seolah memberi ruang bagi segala sesuatu untuk mereda perlahan, menyelesaikan dirinya dengan lembut.

Teras itu masih kosong. Bangku tetap dingin, menanti tanpa keluh. Sore memang belum benar-benar sepenuhnya tiba, tapi langit sudah mulai merunduk perlahan, seperti seseorang yang menunduk di hadapan kenangan.

Warna biru pucat mulai disapu lembut oleh gradasi jingga dan tembaga, seperti sapuan kuas seorang pelukis yang kembali mengulang palet favoritnya, tenang dan tak tergesa-gesa.

Dari celah pagar kayu yang mengelilingi pekarangan sebuah apato, bayang-bayang dedaunan mulai memanjang, bergoyang ditiup angin yang membawa aroma aspal basah dan wangi tanah musim gugur.

Lalu terdengar bunyi “kring” yang begitu pelan, nyaris seperti isyarat dari dunia yang enggan tergesa. Di jalan kecil berbatu yang membelah apāto itu, muncul seorang lelaki dengan bersepeda. Sepedanya mengeluarkan gemeretak roda besi yang bergesekan pelan dengan aspal basah, suara yang tak mengganggu, justru seperti bagian dari irama sore itu. Ia datang dari tempat kerja, sepertinya tidak terlalu jauh, tapi cukup untuk membuat pundaknya sedikit lebih berat dari pagi tadi.

Langkahnya tenang, wajahnya separuh terbenam dalam cahaya senja yang mengalir di sela-sela bangunan rendah. Tak ada yang menyambutnya, kecuali suara daun yang gugur tapi barangkali itu sudah cukup.

Ia mengayuh sepedanya secara perlahan. Di bagian depan sepeda tersebut terpasang ranjang logam kecil yang biasa digunakan untuk membawa barang belanjaan. Tapi hari ini, hanya berisi tas kecil, seikat daun “ shiso”, dan sebungkus kecil camilan manis dari toko langganannya yang selalu ia beli meski tidak tahu untuk siapa.

Tubuhnya ramping, Wajahnya bersahaja, tak tampan mencolok, tapi penuh ketenangan yang menular. Wajah seseorang yang seolah sudah memahami bahwa dunia ini tidak perlu selalu dipahami.

Ia memarkir sepedanya perlahan, membungkuk sebentar ke arah langit, dan berjalan menaiki undakan kayu “apato ” yang berderit lembut. Setiap langkah seolah disambut oleh papan-papan yang berkata: “Kau kembali. Terima kasih.”

Setibanya di apāto, ia masuk sebentar ke dalam. Tak lama kemudian, pintu geser terbuka. Tangan kirinya membawa poci teh tanah liat dan dua cangkir, tangan kanannya menenteng bungkusan kecil berisi “daifuku ” terlihat manis dan lembut, seperti kenangan masa kecil yang sesekali muncul saat hujan turun.

Ia duduk di teras itu dengan gerakan yang seolah sudah menjadi bagian dari irama apāto. Menuangkan teh. Menatap ke halaman sebentar kemudian pandangan matanya lurus menatap kedepan. Sesekali Menghela nafas panjang.
Lelaki itu menoleh ke arah halaman dan berbisik, seolah kepada angin,
“Kadang aku merasa. hanya di sini aku bisa benar-benar mendengar diriku sendiri.”
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah pelan mendekat.

Seorang wanita tua muncul, rambutnya putih mengilat, digelung rapi. Kimono usangnya bermotif daun pinus. Ia berjalan tanpa suara, tapi membawa kehadiran yang begitu terasa.

Tatapannya tajam tapi terlihat begitu lelah, Mereka saling menatap. Lelaki itu tersenyum kecil, lalu membungkuk penuh hormat kemudian menepuk kursi kosong di sebelahnya.

「こんばんは」
Konban wa
sapanya pelan. Suara yang tak berniat mengisi udara, hanya menemani.

Wanita itu mendekat, membungkuk kemudian duduk. Mereka tak langsung bicara. Angin menggoyangkan tirai bambu. Di bawah sana, sepeda lelaki itu diam, menunggu dengan setia.

Beberapa menit berlalu, hanya ditemani oleh suara daun gugur dan cericit burung senja.
「ここによく座りますか? 」
Koko ni yoku suwarimasu ka.
(Anda sering duduk di sini?)

tanya si nenek akhirnya.
Ia menoleh. Kemudian matanya menatap langit yang kini keemasan, Kemudian Lelaki itu menjawab.
ほぼ毎晩、時々一人で、時々立ち寄る人と一緒にいます。”
Hobo maiban, tokidoki hitori de, tokidoki tachiyoru hito to issho ni imasu
(Hampir setiap sore. Kadang sendirian, kadang bersama orang yang singgah.)

Lelaki itu menuangkan teh ke dalam dua cangkir. Gerakannya tenang, penuh penghormatan, seperti seorang murid yang menghormati guru tua. Uapnya naik, seolah membawa harapan yang tak berani disebutkan.

Mereka duduk lama. Kadang menatap langit. Kadang menatap pohon. Kadang hanya menatap cangkir masing-masing, Lama mereka diam. Tapi bukan diam yang kosong. Diam yang seperti halaman kosong dalam surat cinta tak tertulis apa-apa, tapi mengandung segalanya.

“毎年秋になると、私は一人で座っています… でも、さっきこちらの方から水がこぼれる音が聞こえました。”
Mainen aki ni naruto, watashi wa hitori de suwatte imasu…
Demo, sakki kochira no hō kara mizu ga koboreru oto ga kikoemashita
(Setiap tahun ketika musim gugur tiba, aku duduk sendirian… Tapi tadi, aku mendengar suara air tumpah dari arah sini.)

katanya lagi.

“私は思います、このテラスも私のような年老いた人を受け入れることができるかもしれません。
Watashi wa omoimasu, kono terasu mo watashi no yō na toshi oita hito o ukeireru koto ga dekiru kamoshiremasen.
(Aku pikir, mungkin teras ini juga bisa menampung orang tua seperti aku.)

Ia tersenyum pelan, lalu berkata,
以前、私と夫はテラスを持っていました。大きくはありませんが、私たち二人には十分でした。私たちは毎週日曜日の朝、そこに座ってお茶を飲みながら、庭に咲く菊の花を眺めるのが習慣でした。
Izen, watashi to otto wa terasu o motte imashita. Ōkiku wa arimasen ga, watashitachi futari ni wa jūbun deshita. Watashitachi wa maishū nichiyōbi no asa, soko ni suwatte ocha o nomi nagara, niwa ni saku kiku no hana o nagameru no ga shūkan deshita.
(Dulu, aku dan suamiku punya teras juga. Tak besar, tapi cukup untuk kami berdua. Kami biasa duduk di sana setiap minggu pagi, minum teh sambil memandangi bunga krisan di halaman kecil kami.)
Ia berhenti. Seolah mengingat sesuatu yang hanya bisa dirasakan, bukan dijelaskan, Lelaki itu menoleh sebentar, lalu mengangguk kecil.
Seolah berkata, “Teras ini tak akan menggantikan yang dulu, tapi ia bisa menemanimu hari ini.”
彼はいつも、私のお茶が苦すぎると冗談を言います。
でも、それを淹れたのは彼自身なのです。
そして、私たちは一緒に笑い合います。
そんなささやかなことが…私にとっての「帰る場所」なのです。
Kare wa itsumo, watashi no ocha ga nigasugiru to jōdan o iimasu.
Demo, sore o ireta no wa kare jishin na no desu.
Soshite, watashitachi wa issho ni waraiaimasu.
Sonna sasayaka na koto ga… watashi ni totte no “kaeru basho” na no desu.
(Ia selalu menggoda bahwa tehnya terlalu pahit. Padahal, yang membuatnya adalah dia sendiri. Lalu kami tertawa bersama. Hal-hal kecil seperti itu… adalah tempat pulang bagiku.)
Lelaki itu mengangguk. Ia menyodorkan cangkir teh.
もしかしたら、今日のお茶はご主人の淹れたものとは違うかもしれません。
でも…少しでも温かくて、あの方を思い出すきっかけになれば嬉しいです。
Moshikashitara, kyō no ocha wa goshujin no ireta mono to wa chigau kamoshiremasen.
Demo… sukoshi demo atatakakute, ano kata o omoidasu kikkake ni nareba ureshii desu.
(Mungkin teh hari ini tidak seperti buatan suami Anda. Tapi… semoga cukup hangat untuk menjadi pengingat tentang beliau.)

Wanita itu tersenyum. Menerima cangkir itu dengan dua tangan.
あなたの足音が、この縁側の木の床に響く音が好きです。
こんな音を聞くのは、ずいぶん久しぶり。
まるで…誰かが帰ってきたような気がして。
Anata no ashioto ga, kono engawa no ki no yuka ni hibiku oto ga suki desu.
Konna oto o kiku no wa, zuibun hisashiburi.
Marude… dareka ga kaette kita yō na ki ga shite.
(Aku suka suara langkahmu yang bergema di lantai kayu teras ini. Sudah lama sekali tak mendengar suara seperti itu. Rasanya… seperti ada seseorang yang pulang.)

Di bawah cahaya senja yang lembut menyelimuti teras, lelaki itu menjawab dengan tenang, Suaranya menenangkan, membawa rasa nyaman yang sulit diungkapkan.

その階段は、私がインドネシアから来たときに最初に迎えてくれた場所でもあります。まだ誰も知らず、何もできなかった私を。でも、その木のきしむ音が、なぜか…まるで歓迎してくれているかのように聞こえました。
Sono kaidan wa, watashi ga Indoneshia kara kita toki ni saisho ni mukaete kureta basho demo arimasu. Mada dare mo shirazu, nanimo dekinakatta watashi o.
Demo, sono ki no kishimu oto ga, nazeka… marude kangei shite kurete iru ka no yō ni kikoemashita.
(Tangga itu juga merupakan tempat yang pertama kali menyambutku saat aku tiba dari Indonesia. Saat aku belum mengenal siapa pun dan belum bisa melakukan apa pun. Namun, suara kayunya yang berderit itu, entah kenapa… terdengar seperti sedang menyambutku dengan hangat.)

Mereka diam. Hening yang nyaman, Angin membawa aroma teh dan senja yang mengendap.

Lalu, ia bertanya,
ここはお一人ですか?
Koko wa ohitori desu ka?
(Apakah kamu sendiri di sini?)

いいえ。インドネシア人の友達二人と一緒に住んでいます。
でも、彼らはよく遅くまで働いています。
こんな夕方は、一人の時間を楽しんでいます。
Iie. Indoneshiajin no tomodachi futari to issho ni sunde imasu.
Demo, karera wa yoku osoku made hataraite imasu.
Konna yūgata wa, hitori no jikan o tanoshinde imasu.
()

Ia menunduk. Bibirnya bergetar. Suaranya lirih, hampir tak terdengar 一人でいることは、いつも寂しいわけではないですよね?
Hitori de iru koto wa, itsumo sabishii wake de wa nai desu yo ne? gumam sang nenek.

Lelaki itu lalu berkata, “Kadang… kesepian justru datang saat ada banyak orang. Dan kadang, satu teh di teras ini bisa mengusirnya, Kesepian tidak perlu dilawan. Ia hanya perlu ditemani.”

Wanita itu tertawa pelan. “Kau bijak sekali. Terlalu bijak untuk seseorang seusiamu.”
私が好きなスプーンの場所を知っている人が恋しい。
熱すぎるお茶が苦手なことを知っている人が恋しい。
雷が怖いけど、それを認めるのが恥ずかしいと思っていることを知っている人が恋しい。
そういう小さなこと…お金では買えないし、代わりもきかない。
Watashi ga sukina supūn no basho o shitte iru hito ga koishii.
Atsusugiru ocha ga nigate na koto o shitte iru hito ga koishii.
Kaminari ga kowai kedo, sore o mitomeru no ga hazukashii to omotte iru koto o shitte iru hito ga koishii. Sō iu chiisana koto… okane de wa kaenai shi, kawari mo kikanai.

Perempuan itu terdiam lama. Kalimat itu seperti membuka jendela dalam dirinya yang sudah lama terkunci. Air matanya akhirnya jatuh. Tapi kali ini, ia tak merasa malu.
もしかすると、人生が私に早く教えてくれたのかもしれません。(Moshika suru to, jinsei ga watashi ni hayaku oshiete kureta no kamoshiremasen.) ” jawabnya. 家を離れて暮らすことで、恋しさや「そばにいることの意味」を学びました。 (Ie o hanarete kurasu koto de, koishisa ya “soba ni iru koto no imi” o manabimashita.)
Ia menghela nafas.
時々、ここに座ることが、私が正気を保つための方法です。
時間を感じるために。
Tokidoki, koko ni suwaru koto ga, watashi ga shōki o tamotsu tame no hōhō desu.
Jikan o kanjiru tame ni.

時々、ここに静かに座ることが、私の心を保つ方法なのです。
時の流れを感じるために。
Tokidoki, koko ni shizuka ni suwaru koto ga, watashi no kokoro o tamotsu hōhō na no desu. Toki no nagare o kanjiru tame ni.

Tatapannya menerawang. suaranya menjadi lirih, penuh kejujuran yang tersimpan lama:
「主人が亡くなってから、家は静かすぎます。子どもたちはそれぞれの道を歩み、遠くにいます。昔はみんなここで笑い合っていたのに…今は私ひとりだけです。」
Shujin ga nakunatte kara, uchi wa shizuka sugimasu. Kodomotachi wa sorezore no michi o ayumi, tōku ni imasu. Mukashi wa minna koko de waraia tte ita noni… ima wa watashi hitori dake desu.
(Sejak suamiku meninggal, rumah kami terlalu sunyi. Anak-anak berjalan di jalan mereka masing-masing, jauh dari sini. Dulu, kami semua tertawa bersama di sini… tapi sekarang aku sendirian.)
Lelaki itu mendengarkan dengan penuh perhatian, membiarkan keheningan mengisi ruang antara mereka. Sang nenek melanjutkan dengan suara sedikit bergetar:
Sang nenek memejamkan mata.
人は「時間が癒す」と言います。でも違います。時間はただ、傷と共に生きる方法を教えてくれるだけです。
Hito wa “jikan ga iyasu” to iimasu. Demo chigaimasu. Jikan wa tada, kizu to tomo ni ikiru hōhō o oshiete kureru dake desu.
(Orang-orang bilang, “Waktu menyembuhkan.” Tapi tidak. Waktu hanya mengajari kita cara hidup bersama luka.)

以前、彼の持ち物を全部捨てようとしました。彼のカップやパジャマをもう見なければ、もっと早く忘れられると思ったのです。でも、実際に一番消すのが難しかったのは、静かな時の彼の影でした。私たちが座って、言葉なく雨を見つめていたあの時間です。彼の声ではなく、彼の存在が恋しいのです。
Izen, kare no mochimono o zenbu suteyou to shimashita. Kare no kappu ya pajama o mō minakereba, motto hayaku wasurerareru to omotta no desu. Demo, jissai ni ichiban kesu no ga muzukashikatta no wa, shizuka na toki no kare no kage deshita. Watashitachi ga suwatte, kotoba naku ame o mitsumete ita ano jikan desu. Kare no koe de wa naku, kare no sonzai ga koishii no desu.
(Dulu, aku sempat mencoba membuang semua barang miliknya. Kukira, jika tak kulihat lagi cangkirnya, atau baju tidurnya, aku akan lupa lebih cepat. Tapi ternyata, yang paling sulit dihilangkan adalah bayangannya saat diam. Saat kami duduk, menatap hujan tanpa bicara. Bukan suaranya yang kurindukan. Tapi kehadirannya.)
「一緒に育てた子どもたちが遠く離れて暮らしている。時々、声が聞きたくて電話をかけるけれど、忙しい日々の中で短い会話だけ…それでも、あの笑顔が私の支えでした。」
Issho ni sodate ta kodomotachi ga tōku hanarete kurashite iru. Tokidoki, koe ga kikitakute denwa o kakeru keredo, isogashii hibi no naka de mijikai kaiwa dake… soredemo, ano egao ga watashi no sasae deshita.
(Anak-anak yang kami besarkan bersama hidup jauh terpisah. Kadang aku ingin mendengar suara mereka dan menelepon, tapi dalam kesibukan mereka hanya ada pembicaraan singkat… meski begitu, senyum itu adalah penopangku.)
夫ももういない。私は彼と子どもたちの記憶をそっと抱きしめています。時には孤独が重くのしかかります。
Otto mo mō inai. Watashi wa kare to kodomotachi no kioku o sotto dakishimete imasu. Tokiniwa kodoku ga omoku noshikakarimasu.
(Suamiku sudah tiada. Aku dengan lembut memeluk kenangan tentang dia dan anak-anakku. Kadang kesepian terasa berat.)
Lelaki itu menatap cangkirnya. Angin berdesir. Di balik kesederhanaan sore itu, ada ruang yang perlahan dibuka kembali oleh kehadiran yang tidak direncanakan.
Lelaki itu tidak menimpali. Ia hanya menyentuh tepi cangkirnya. Hangat. Seperti hatinya saat itu.
そして私にとって…何年もぶりに、誰かと本当に一緒に座るのは、これが初めてかもしれません。
Soshite watashi ni totte… nannen mo buri ni, dareka to hontō ni issho ni suwaru no wa, kore ga hajimete kamoshiremasen.
毎朝、私はお茶を淹れます。
カップを二つ置いて、席に座ります。
そして心の中でこう言います。
「おはよう。私はまだここにいるよ。
Maiasa, watashi wa ocha o iremasu.
Kappu o futatsu oite, seki ni suwarimasu.
Soshite kokoro no naka de kō iimasu.
“Ohayō. Watashi wa mada koko ni iru yo.

今日は…久しぶりに誰かと一緒にお茶を飲みました。
そしてなぜか、どこかで夫が微笑んでいるような気がしました。
Kyō wa… hisashiburi ni dareka to issho ni ocha o nomimashita.
Soshite naze ka, dokoka de otto ga hohoende iru yō na ki ga shimashita.

Ia tertawa kecil, lalu menatap cangkirnya yang hampir kosong.
また今度、来てもいいですか?(Mata kondo, kite mo ii desu ka?) tanyanya ragu.
もちろんです。このテラスは、座りたいと思うすべての人に開かれていますよ。
Mochiron desu. Kono terasu wa, suwaritai to omou subete no hito ni hirakarete imasu yo.

ただ静かに座っていたい人も、含まれますか?
Tada shizuka ni suwatte itai hito mo, fukumaremasu ka?

むしろ、そのために開かれています。
Mushiro, sono tame ni hirakarete imasu.

特に、そのために。
Tokuni, sono tame ni.

Ketika senja benar-benar tenggelam, meninggalkan jejak merah jambu yang memudar di langit, lampu jalan mulai menyala satu per satu, berkelip seperti bintang-bintang yang kebingungan, masih mencari tempatnya di antara kabut malam. Sang nenek, dengan gerakannya yang sudah cukup paham akan waktunya, berpamitan.
ありがとうございます…
Arigatou gozaimasu.. .suaranya lembut, tapi penuh beban yang tak terucap,
…お茶が理由ではなく、この場所が、私に静かでいることを許してくれたからです。
…ocha ga riyū de wa naku, kono basho ga, watashi ni shizuka de iru koto o yurushite kureta kara desu.

Ia menunduk sedikit, seolah menghargai kata-katanya sendiri, lalu berjalan perlahan menuruni tangga kayu. Langkahnya tak terburu-buru, namun seakan membawa kedalaman yang jauh. Setiap jejaknya di tanah itu, di atas kerikil yang sama, terasa seperti sebuah perjalanan panjang yang sudah sering ia lakukan, dan yang tak pernah benar-benar selesai.
Teras itu, menyimpan satu kisah, kisah yang bukan untuk dituliskan dalam buku, bukan untuk diceritakan pada orang lain, melainkan hanya untuk diingat dalam napas yang pelan, dalam detik-detik yang tenang, seperti udara yang berhembus di sela-sela dedaunan.
Di hari-hari mendatang, tak seorang pun tahu apakah sang nenek akan datang lagi, atau apakah lelaki itu masih akan menuang dua cangkir teh setiap sore. Tapi ada sesuatu yang tak berubah sejak hari itu: kursi di sebelahnya tak pernah lagi benar-benar kosong. Ada jejak. Ada ingatan. Ada tempat yang pernah diduduki oleh seseorang yang hanya ingin diam.

Dan dalam hidup yang sering tergesa, teras itu menjadi semacam perlawanan yang lembut, tempat yang tak meminta apa-apa, selain keberanian untuk hadir.
Di bawah langit malam yang lembut, lelaki itu tetap duduk, merapikan poci dan cangkir dengan gerakan hati-hati, seolah tidak ingin mengganggu ketenangan yang masih tersisa.
Ia menatap sepedanya sejenak, roda-roda yang diam, kemudian matanya mengangkat ke langit, Lalu pandangannya turun lagi, menuju kursi kosong yang ada di depan teras. Tidak ada kata-kata, hanya keheningan yang memenuhi ruang di antara mereka, yang selalu penuh dengan kenangan yang tidak pernah diucapkan.
Dan dalam diam itu, ia tersenyum pelan, sebuah senyum yang datang tanpa beban. Karena ia tahu, ada yang pulang hari ini, meskipun tanpa alamat, tanpa tujuan yang jelas, tanpa kata perpisahan yang besar.
Dan di suatu tempat, dalam dirinya yang terdalam, di ruang sunyi yang hanya ia kenal, ia juga merasa sedang pulang. Mungkin ke tempat yang lebih tenang, lebih jauh, atau lebih dekat daripada yang ia duga. Tapi itu bukan soal jarak. Itu soal menemukan tempat untuk diam, dan akhirnya tahu apa arti pulang yang sesungguhnya.

supri
supri
https://supritomo.com

This website stores cookies on your computer. Cookie Policy