Ada tempat di Jepang di mana waktu terasa berhenti di ambang laut. Namanya Fukuzen-ji (福善寺), sebuah kuil kecil di perbukitan Tomo-no-Ura — pelabuhan tua yang menghadap ke Laut Pedalaman Seto.
Dari luar, kuil ini tampak sederhana, nyaris tersembunyi di antara rumah-rumah kayu tua. Tapi begitu melangkah ke dalam dan berlutut di atas tatami di ruangan yang disebut Taichōrō (対潮楼), dunia tiba-tiba berubah menjadi kanvas besar: laut biru, pulau-pulau kecil yang tenang, dan langit yang perlahan menua dalam cahaya sore.
Dari jendela besar paviliun ini, pemandangan terbentang seperti lukisan tinta seimbang antara air, pulau, dan udara. Tidak heran jika utusan dari Korea, Lee Bang Eun, yang berkunjung ke sini pada tahun 1711, menyebut pemandangan ini sebagai:
「日東第一形勝」— Nitō Daiichi Keishō
“Pemandangan terindah di timur Tiongkok.”Kata-kata itu terukir hingga kini, menggantung di atas jendela besar yang menghadap laut, seolah menjadi pengingat abadi bahwa keindahan kadang tak perlu diubah, cukup disaksikan dengan hati yang tenang.
Antara Sejarah dan Keheningan
Fukuzen-ji bukan sekadar kuil pemujaan, tapi juga saksi hubungan panjang antara Jepang dan Korea. Pada masa Dinasti Joseon, tempat ini menjadi rumah sementara bagi para utusan yang menyeberangi laut dalam misi diplomatik.
Kaligrafi bertuliskan “Taichōrō,” hasil karya Hong Kyoung Hae pada tahun 1748, masih tergantung di aula yang sama — tinta masa lalu yang menembus waktu.
Di dinding-dinding kayu yang hangat, terdapat lukisan, dokumen, dan artefak kecil yang bercerita tentang persahabatan dua negeri, tentang bagaimana diplomasi pernah dijalankan lewat keindahan dan rasa hormat. Tak ada keramaian, tak ada hiruk-pikuk sejarah, hanya udara asin laut yang masuk lewat celah jendela, membawa suara masa lalu.
Pemandangan yang Tidak Butuh Kata
Dari Taichōrō, pandanganmu akan jatuh pada Pulau Bentenjima, dengan pagoda kecil di puncaknya yang tampak seperti mengambang di atas air, dan di belakangnya, kehijauan Pulau Sensui-jima (仙酔島) yang lebih besar. Laut tenang, nyaris tanpa gelombang, membuat semuanya tampak seperti lukisan hidup dan kamu, tanpa sadar, menjadi bagian dari bingkainya.
Aku beruntung datang pada hari kerja. Tidak ada suara selain angin, langkah kakiku di lantai kayu, dan derit lembut pintu geser saat kubuka. Dari luar, kuil ini tampak seolah tutup. Tapi begitu aku melepas sepatu dan menunduk di ambang pintu, aku tahu, keheningan ini sedang menungguku.
Seorang penjaga datang menghampiri dengan senyum kecil, memberiku brosur berbahasa Inggris, dan menjelaskan bagaimana matahari terbit berpindah arah sedikit demi sedikit setiap musim. Ia menunjuk ke jendela dan berkata, “Kalau datang di bulan Juni, cahaya pagi akan tepat di tengah laut.”
Aku menatap ke luar jendela dan mengerti maksudnya: di sini, cahaya tidak datang untuk menerangi, tapi untuk menemani.
Sisa Rasa yang Tertinggal
Kuil ini hanya berjarak sepuluh menit berjalan kaki dari pelabuhan utama Tomo-no-Ura, dan tiket masuknya tak lebih dari 300 yen. Namun nilai yang sebenarnya tak bisa dihitung dengan angka. Beberapa pengunjung datang untuk berfoto di jendela besar itu dan aku bisa mengerti kenapa. Bingkai kayu itu memeluk laut seperti lukisan yang bernafas.
Kuil ini bukan tempat untuk terburu-buru. Datanglah pagi hari ketika udara masih lembut, atau menjelang sore ketika langit mulai redup dan laut berubah warna. Duduklah diam, dengarkan langkah waktu, dan biarkan pandanganmu larut di antara ombak dan langit.
Catatan Kecil
Pemandangan dari Fukuzen-ji sering dibandingkan dengan suibokuga, lukisan tinta yang menekankan keseimbangan antara bentuk dan kehampaan. Konon, tempat ini juga menginspirasi Hayao Miyazaki saat menciptakan latar film Ponyo on the Cliff by the Sea (崖の上のポニョ).
Bagi sebagian orang, Fukuzen-ji hanyalah kuil kecil di tepi laut. Tapi bagi mereka yang datang dengan hati yang tenang, tempat ini bukan sekadar destinasi ia adalah jeda yang hidup.